Kondisi geografi lahan pertanian di desa Sarangan umumnya berbukit dan memiliki kemiringan lahan yang cukup curam. Walaupun ada beberapa tempat yang memiliki kemiringan lahan yg cukup landai. Secara umum dapat disimpulkan bahwa lahan pertanian dan perkebunan di lingkungan Sarangan mempunyai ketinggian di atas 900 meter diatas permukaan laut(DPL). Adapun letaknya terbagi menjadi beberapa wilayah, sebelah utara ada pada lahan pertanian Singolangu,bagian selatan lahan pertanian Ngeluweng,sebelah barat lahan pertanian Sarangsari dan Mojosemi serta pada bagian timur disebut lahan pertanian Mbasal. Pada umumnya lahan peertanian tersebut sebagai lahan perkebunan sayur.Berbagai macam tanaman sayur akan selalu kita jumpai sepanjang tahun. Hal ini dikarenakan lahan lahan perkebunan sayur tersebut telah menerapkan sistem pengairan yang baik. Penerapan sistem pengairan yang efisien sangat diperlukan didalam penanganan lahan pertanian yg miring dan terpisah oleh cekungan sungai atau jurang. Dengan di awali dengan inisiatif para petani pemilik lahan, mereka dengan usaha swadaya dan bantuan pemerintah maka satu demi satu, tahap demi tahap maka hampir seluruh lahan perkebunan sayur itu tercukupi kebutuhan air nya di saat musim kemarau. Adapun sistem pengairan yg diterapkan yaitu dengan sistem "penginciran". Dengan sistem penginciran itu kebutuhan air lahan pertanian dapat dihemat sampai 80%.Hal ini sangat berdampak positf terhadap lahan-lahan pertanian yang sebelumnya hanya bergantung pada pasokan air hujan. Dengan keberadaannya sebagai lahan pertanian yang dapat ditamani sepanjang tahun maka sekaligus menjadi solusi bagi para petani yang memiliki luas lahan yang terbatas/sempit. Sehingga produktifitas petani dapat meningkat .Dan diharapkan pula petani dapat menanam berbagai jenis sayuran yg sebelumnya terkendala oleh musim. Dengan pola tanam yg benar,pengolahan tanah,pengendalian hama tanaman dan penangan pasca panen yg tepat,tentunya menjadi faktor penting pula dalam menentukan keberhasilan para petani.Hal ini selayaknya menjadi perhatian yg penting khususnya tentang pengendalian hama tanaman dan menjaga kesuburan tanah.Dampak dari pola tanam dan jadwal tanam yg terus menerus ini menyebabkan kerumitan dalam penangan pengendalian hama. Hama tersebut akan sedikit sulit di berantas karena jadwal tanam yang berbeda waktunya dan akibat penanaman berbagai jenis sayuran di dalam satu kawasan lahan pertanian. Adapun sebab dari kondisi lahan pertanian tersebut yaitu keasaman tanah yg trrlalu tinggi karena selalu basah(air hujan da penyiraman). Untuk membantu mengendalikan keasaman tanah ini dapat dilakukan dengan pengapuran menjelang mesa tanam. Dengan beralihnya penggunaan pupuk kimia ke pupuk organik secara bertahap, maka di harapkan dalam kurun waktu 7 tahun ,para petani sudah bisa membebaskan lahan pertaniannya dari pupuk kimia.(Berani mencoba......!???). :-) JURUS TANDUR. !! (maju terus pantang mundur) Hidup petani Indonesia.............!!!
Translate
Selasa, 26 April 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar